11 agustus 2016

MELEPASKAN MASA DEPAN

Baca: Keluaran 2:1-10

Diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. (Keluaran 2:3)

Sejak mempunyai anak, saya selalu berjuang melawan perasaan gelisah setiap kali harus pergi bertugas ke luar kota. Hati saya merasa sedih sebab terpaksa meninggalkan putra-putri demi mewujudkan masa depan saya dan keluarga. 

MULUT YANG BIJAK

Baca: Yakobus 3:1–12

Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. (Amsal 17:27)

Sudah menjadi rahasia umum tempat kita beribadah (gereja) ada kelebihan dan kekurangannya. Saya sering bertemu kawan, saudara, rekan kerja yang mengeluh tentang gereja tempat mereka beribadah. Mereka mengeluh tentang staf, liturgi, alokasi dana, kepemimpinan gereja, musik, dll. Tentu kita semua rindu untuk menciptakan lingkungan ibadah yang ideal. Sedihnya, dalam proses mencapai keadaan tersebut, gejolak mulut untuk melontarkan keluhan tidak berhenti, malah menjadi-jadi. 

TERANG YANG SEJATI

Baca: Yohanes 1:1-9
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yohanes 1:5).

Thomas Alfa Edison menemukan tenaga listrik setelah mengadakan percobaan berulang-ulang. Konon ia melakukan percobaan lebih dari seribu kali. Karena jasanya, kehidupan manusia berubah sama sekali. Desa-desa dan kota-kota dapat mengalami terang lampu listrik. Banyak pekerjaan manusia yang dapat diselesaikan hanya dengan memencet sebuah tombol listrik. Tetapi, terang yang dihasilkan dari usaha dan kerja keras Edison tidak bisa menerangi sisi lain dari kegelapan hidup manusia, yaitu kegelapan karena dosa. 

ALASAN

Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. (Efesus 4:25)

Ada alasan di balik setiap tindakan seseorang, dan alasan itu sering menjadi penentu seberapa serius seseorang mengerjakan kegiatannya. Seorang ayah bekerja dengan tekun karena sadar bahwa kesejahteraan istri dan anaknya bergantung kepadanya. Sebaliknya seseorang yang bekerja sekadar untuk mengisi waktu, cenderung kalah serius dibandingkan sang ayah tadi.

KERINDUAN PADA TUHAN

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mazmur 25:5)

Terkadang kita baru merasakan sesuatu atau seseorang berharga jika kita telah kehilangan hal itu. Seorang anak, yang baru saja kehilangan ayahnya, begitu menyesal karena belum dapat membahagiakan dan membanggakan ayahnya. Ia juga menyesal karena tak dapat berada di samping ayahnya saat detik-detik kematian ayahnya. Akhirnya karena merasakan kerinduan yang begitu mendalam, anak itu menulis puisi yang sangat panjang untuk ayahnya. Namun, semuanya sudah terlambat, ayahnya sudah tidak sempat membaca puisi tersebut.

CARA TUHAN BEKERJA

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8)

Seorang pendeta bercerita, saat masih sekolah Alkitab ia dan beberapa teman terinspirasi oleh kebiasaan gembala senior mereka berdoa subuh-subuh. Mereka bertekad mengikuti teladan itu. Mereka bangun subuh untuk berdoa. Hasilnya? Bukannya mengalami terobosan kerohanian seperti yang mereka impikan, mereka semua malah tidak masuk kuliah karena masuk angin!


Baca: Yesaya 9:1-6

Dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5)

Selama orang-orang Israel ditawan di Babel, pemimpin Babel, Raja Nebukadnezar, memilih Daniel untuk mengikuti pelatihan selama tiga tahun di istana raja. Ia berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja (Dan. 1:8). Setelah ia diangkat menjadi salah seorang dari tiga orang pejabat tertinggi di Babel, sebuah perintah dikeluarkan supaya dalam waktu 30 hari tidak seorang pun boleh menyembah kecuali kepada raja. Namun, Daniel tetap berdoa secara terbuka di atas atap rumah tiga kali sehari. Akibatnya, ia harus menjalani hukuman karena melanggar titah raja. Ia harus dimasukkan ke dalam gua singa. Dan, Allah memeliharanya. Nama Daniel berarti “Allah adalah hakimku.”